Tampilkan postingan dengan label MA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juli 2017

Contoh Khutbah Jum’at "Sepuluh Hari Terakhir Di Bulan Ramadhan"



Oleh : al Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.
الحَمْدُ لِلهِ مُقَدِّرِ الْمَقْدُوْرِ وَمُصَرِّفِ اْلأَيَّامِ وَالشُّهُوْرِ، وَأَحْمَدُهُ عَلَى جَزِيْلِ نِعَمِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا إِلَى الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ، أَمَّا بَعْدُ: فَأُوْصِيْكُمْ-أَيُّهَا النَّاسُ-وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَاتَّقُوْا اللهَ رَحِمَكُمُ اللهُ فَبِهَا الْفَلاَحُ وَالسَّعَادَةُ وَالنَّجَاحُ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala yang telah menetapkan keutamaan yang besar bagi hamba-hamba yang  dikehendaki-Nya. Kami memuji dan bersyukur kepada-Mu, ya Allah, atas kenikmatan bertemu dengan bulan Ramadhan, lebih-lebih pada sepuluh hari terakhir di bulan yang mulia ini. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi dengan benar selain Allah Subhanahu wata’ala semata, serta saya bersaksi bahwa Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba dan utusan-Nya.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah Subhanahu wata’ala curahkan kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan kaum muslimin yang bersungguh-sungguh dalam mengikuti jalannya.

Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar takwa. Dengan bertakwa, seseorang akan ditinggikan derajatnya dan menjadi hamba yang mulia di sisi-Nya. Oleh karena itu, marilah kita mewujudkan ketakwaan dalam hati kita dengan senantiasa menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Seakan-akan baru saja kita bertemu dengan awal bulan yang mulia ini, ternyata sekarang kita sudah mendekati pengujung bulan yang penuh kebaikan ini. Hari-hari yang penuh dengan keutamaan ini akan terus berjalan meninggalkan kita serta akan menjadi saksi di hadapan AllahSubhanahu wata’ala atas seluruh amalan dan perbuatan kita.
Hadirin rahimakumullah,
Di antara ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada sepuluh hari yang terakhir di bulan yang mulia ini adalah i’tikaf. Sebab, demikianlah yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam hadits,
كَانَ رَسُولُ اللهِ صل الله عليه وسلم يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ
“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. al-Bukhari)
I’tikaf adalah menetap secara terus-menerus di dalam masjid untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala. I’tikaf ini bisa dilakukan di setiap masjid yang ditegakkan di dalamnya shalat berjamaah dan lebih utama jika ditegakkan pula shalat Jum’at.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Sungguh menakjubkan keadaan orang yang beri’tikaf. Hari-harinya dipenuhi dengan menyendiri dari manusia untuk berhubungan dengan Yang Mahakuasa. Dia tinggalkan kesibukan dunianya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dia tidak keluar dari masjid selain untuk keperluan yang harus dilakukan, seperti bersuci, buang hajat, dan semisalnya; atau untuk makan dan minum kalau tidak ada yang menyediakannya di masjid. Bahkan, dia tidak keluar untuk menjenguk orang sakit atau bertakziah dan mengiringi jenazah.
Dia sibukkan dirinya dengan berzikir, berdoa, shalat, dan ibadah lainnya. Adapun yang dilakukan oleh sebagian orang, yaitu banyak ngobrol dengan orang lain ketika i’tikaf, hal ini tidak tepat.

Hadirin rahimakumullah,
Perlu diketahui pula, seseorang tidak boleh meninggalkan tugas yang telah menjadi kewajibannya -para pegawai misalnya- untuk menjalankan i’tikaf. Sebab, menjalankan amanat adalah perkara yang wajib, maka tidak boleh dikalahkan dengan i’tikaf yang hukumnya sunnah. Meski demikian, dia bisa memperbanyak tinggal di masjid untuk beribadah, karena ketaatan di bulan ini lebih tinggi nilainya daripada ketaatan di bulan lainnya.
Oleh karena itu, semestinya setiap orang berusaha meningkatkan amal ibadahnya, lebih-lebih pada sepuluh hari yang terakhir. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana dalam hadits,
أَنَّ النَّبِيَّ صل الله عليه وسلم كَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh hari yang terakhir tidak seperti pada hari-hari yang lainnya.” (HR. Muslim)
Di antara sebab ditingkatkannya ibadah pada sepuluh hari yang terakhir adalah karena saat itu ada  malam yang disebut lailatul qadar. Malam yang penuh dengan kebaikan bagi orang-orang yang mengisinya dengan ketaatan. Malam yang seluruh malaikat secara bertahap turun dari tempatnya di langit menuju bumi ini. Malam yang amalan seseorang di malam tersebut setara dengan amalan yang dilakukan lebih dari seribu bulan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ () وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ () لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ () تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan.” (al-Qadr: 1-4)
Sungguh beruntung orang-orang yang bisa memanfaatkan kesempatan yang mulia ini dengan berbagai amal saleh. Ia bisa meraih keuntungan yang berlipat-lipat. Kabar gembira bagi mereka dengan ucapan yang dikatakan kepada penduduk surga, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,
كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“(Dikatakan kepada mereka penduduk surga), “Makan dan minumlah dengan penuh kenikmatan sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan(waktu di dunia).” (ath-Thur: 19)
Sungguh, kerugian yang besar bagi orang-orang yang tetap di atas kemaksiatan-kemaksiatannya selama bulan Ramadhan. Sebab, kemaksiatan di bulan Ramadhan yang mulia tidak sama dengan kemaksiatan yang dilakukan di luar Ramadhan, meskipun kemaksiatan tidak boleh dilakukan kapan pun dan di bulan apa pun. Hanya saja, kemaksiatan di bulan ini menunjukkan ketidakpedulian seseorang terhadap dirinya dan jeleknya akhlak orang yang melakukannya.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan bulan yang mulia ini sebagai saat untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan memulai lembaran baru dengan amalan-amalan saleh dan ketakwaan kepada-Nya. Ingatlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ
“Sangatlah merugi orang yang berjumpa dengan bulan Ramadhan, namun berpisah sebelum diampuni dosa-dosanya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, beliau mengatakan, “Hadits hasan gharib.”)
Maka dari itu, di atas mimbar ini, kami mengajak diri kami dan kaum muslimin yang masih terjatuh pada dosa-dosa besar untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala; yang durhaka kepada orang tua untuk berbakti kepada orang tuanya; yang memutus silaturahmi untuk menyambung kembali silaturahmi dengan kerabatnya; yang meninggalkan shalat berjamaah untuk segera memperbaiki keadaannya.
Apalagi yang masih terjatuh pada dosa besar yang paling besar, seperti perbuatan menyembelih untuk dipersembahkan kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, yang diistilahkan dengan sedekah bumi atau sedekah laut, membenarkan perkataan para dukun atau peramal, serta mengeramatkan kuburan dan menjadikan orang yang dimakamkan sebagai perantara untuk meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan lain sebagainya.
Bertobatlah kepada Allah Subhanahu wata’ala, pelajarilah agama ini dengan benar. Janganlah mengikuti ucapan setiap orang yang berbicara tentang agama ini sedangkan kita belum yakin tentang dasar pijakannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat nasuha (tobat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian  dan memasukkan kalian ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”(at-Tahrim: 8)
Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita tutup bulan Ramadhan ini dengan akhir yang baik. Sebab, sebagaimana amalan itu akan dibalas sesuai dengan niatnya, amalan juga tergantung bagaimana penutupannya. Maka dari itu, marilah kita terus melakukan amalan ibadah yang selalu kita amalkan sejak awal hingga akhir Ramadhan.
Bahkan, setelah berakhirnya bulan ini pun tidak berarti kita berhenti beramal saleh. Istiqamahlah dalam menjalankan shalat tarawih berjamaah sampai akhir Ramadhan ini untuk mendapatkan apa yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ.
“Sesungguhnya barang siapa yang shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai (salam), akan ditulis baginya pahala orang yang shalat semalam penuh.” ( HR. Ahlus Sunan dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)
Begitu pula istiqamahlah dalam menjalankan puasa dan membaca al-Qur’an, apalagi shalat lima waktu secara berjamaah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الصِّيَامُ وَاْلقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَقُوْلُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهْوَةَ فَشَفِّعْنِي فِيْهِ؛ وَيَقُوْلُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيْهِ؛ قَالَ: فَيَشْفَعَانِ.
“Puasa dan al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Wahai Rabb, aku telah mencegah dia dari makan dan syahwat, maka izinkanlah aku memberikan syafaat untuknya.’ Al-Qur’an juga berkata, ‘Aku mencegah dia dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberikan syafaat untuknya.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Keduanya (yaitu puasa dan al-Qur’an) pun memberikan syafaat (kepada si hamba).” ( HR. Ahmad, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)
Akhirnya, mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberikan taufik-Nya kepada kita semua dan menerima seluruh amalan kita.



Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ اْلعَزِيزُ اْلغَفُوْرُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اْلبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا. أمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Perlu diketahui, sekarang kita berada pada sebaik-baik hari di bulan Ramadhan. Kita telah berada pada sepuluh terakhir di bulan yang istimewa ini. Barang siapa bersungguh-sungguh sejak awal bulan Ramadhan, lanjutkanlah dan tingkatkanlah amal salehnya untuk mendapatkan keberuntungan yang berlipat-lipat. Barang siapa sebaliknya, segeralah bertobat dan segera menyusul berlomba-lomba untuk beramal saleh.8800
Hadirin rahimakumullah,
Pada akhir bulan Ramadhan ini juga ada kewajiban besar yang harus diperhatikan oleh kita semua, yaitu kewajiban mengeluarkan zakat fitrah. Zakat ini berupa makanan pokok sebanyak satu sha’ atau sekitar tiga kilogram, diberikan kepada yang berhak menerimanya sebelum shalat ‘ied, atau boleh pula satu-dua hari sebelumnya. Disebutkan dalam hadits dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
كُنَّا نُخْرِجُ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللهِ صل الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ كُلِّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ، حُرٍّ أَوْ مَمْلُوكٍ، صَاعًا مِنْ طَعَامٍ …
“Dahulu di saat Rasulullah bersama kami, kami mengeluarkan zakat fitrah atas anak kecil maupun orang dewasa, baik yang merdeka maupun budak, sejumlah satu sha’ dari makanan (pokok).” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan tidak bolehnya mengeluarkan zakat fitrah kepada yang menerimanya dalam bentuk uang, karena demikianlah yang dilakukan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan pada waktu itu sudah ada alat tukar yang berfungsi seperti uang di masa ini. Maka dari itu, janganlah kita menyelisihi suri teladan kita dalam menjalankan ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Di samping itu, zakat fitrah ini harus benar-benar diberikan kepada yang berhak menerimanya, yaitu fakir miskin. Sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qur’an dan hadits, zakat fitrah dan zakat mal ini tidak boleh digunakan untuk pembangunan masjid, madrasah, pondok pesantren, atau kegiatan-kegiatan dakwah atau sosial yang diselenggarakan oleh organisasi-organisasi atau yayasan-yayasan. Zakat harus diberikan kepada yang berhak sebagaimana telah diatur oleh syariat.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Di antara amalan yang sangat ditekankan -bahkan dikatakan wajib oleh sebagian para ulama-adalah melakukan shalat ‘Ied setelah keluar dari bulan Ramadhan, yaitu hari pertama bulan Syawal. Karena itu, kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan janganlah meninggalkan amalan yang besar ini.
Namun, perlu diketahui bahwasanya shalat ‘Iedul Fitri adalah amalan yang bersifat jama’i(bersama-sama) dan cara menetapkannya ditentukan oleh syariat. Maka dari itu sudah semestinya bagi seluruh kaum muslimin di negeri ini untuk tidak berselisih atau membuat aturan baru dalam hal menetapkannya.
Tidak sepantasnya bagi siapa pun untuk menetapkan jatuhnya hari ‘Iedul Fitri sebelum saatnya. Untuk menjaga kebersamaan, penetapannya harus diserahkan kepada pemerintah.
Akhirnya, mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa menunjukkan kepada kita bahwa yang benar adalah benar sehingga kita menjalankannya, dan menunjukkan yang salah adalah salah sehingga kita menjauhinya.





Monolog KAUS KAKI BOLONG



Monolog
KAUS KAKI BOLONG
Karya Hermana HMT

PANGGUNG TERASA MAGIS. SUASANA DIBANGUN OLEH BUNYI ALAT MUSIK GESEK YANG DIPADU DENGAN SUARA ORANG-ORANG BERGUMAM.
DI TENGAH PANGGUNG TAMPAK SATU SOSOK TUBUH TERBARING KAKU, TERTUTUP KAIN BATIK SEPERTI MAYAT DAN DI BELAKANGNYA BERDIRI SEBUAH KURSI LIPAT. NGIGAU

Ini bukan salahku ! Aku tidak tahu menahu soal itu. Sungguh ! Tidak. Tidak! Jangan pandangi aku seperti itu. Aku…aku.. ahhh !

LAKI-LAKI ITU BERDIRI. IA MENATAP KE SEGALA PENJURU, YANG MANA TIAP LIRIKANNYA CUKUP PELAN DAN MENGANDUNG MISTERI

Kenapa kalian pandangi aku seperti itu ? Jangan asal, ya ! Memangnya aku ini apa ? Aku bukanlah barang antik yang suka di pajang di etalase-etalase, atau bintang film murahan koliksi para cukong, apalagi doger monyet yang sering ngamen di pasar malam ! Oh, barang kali kalian suka sama aku. Suka, ya ? Heh ! Tidak ? Ah suka. Jangan munafik deh. Tu kan…tu kan suka.

MELUDAH

Puah ! Tidak ! Kalian tidak pernah menyukaiku. Kalian tukang perah, penjilat, pembual besar. Kerjanya hanya memeras, bisanya menyalahkan setiap kebijakan yang sudah capek-capek dibikin orang, padahal kalian sendiri tidak becus memperbaiki atau menyusun kebijakan baru yang lebih ideal. Dasar beo, luh !
TERDENGAR MUSIK DRUMBAND. KEDUA MATA LAKI-LAKI ITU LARAK-LIRIK LIAR.

Apa kalian mendengar suara aneh di sini ?

BUNYI MUSIK ITU SEMAKIN TERDENGAR JELAS. LAKI-LAKI ITU SEMAKIN GELISAH DAN TERHANTUI. DENGAN RASA TAKUT IA GUNAKAN KAIN BATIK SEBAGAI PENUTUP TUBUHNYA SAMBIL BERULANG KALI BERUJAR

Oh, tidak. Tidak ! Aku tidak pernah menyuruhnya. Betul ! Tanyakan saja pada mereka yang mengenal aku lebih jauh.
DAN AKHIRNYA LAKI-LAKI ITU TERPURUK DI LANTAI. MERASA SUDAH AMAN PERLAHAN-LAHAN DARI BALIK KAIN LAKI-LAKI ITU KELUAR DAN BERDIRI LAGI.

Hei ! Kuperingatkan sekali lagi, jangan pandangi aku seperti itu ! Apa salahku ? Untuk kali ini berilah ketenangan pada jiwaku. Tolonglah, bisa kan ? Aku sudah sangat lelah. Atau kalian sudah berkomplot dengan orang-orang di luar sana. Kalain bermaksud melenyapkan dan sekaligus merampok seluruh kekayaanku ? Please, kasihanilah aku. Aku sudah tidak punya apa-apa. Kalian tahu, bukan ? Semuanya sudah mereka rampas, ingin apa lagi. Yang kumiliki sekarang tinggalah pakaian ini, pikiran dan perasan yang sama sekali sudah tak berarti lagi begi kalian. Sekarang aku tidak lebih dari seonggok sampah murahan. Ya aku sampah. Aku sampah. Sampah. Sampah. Sampaaaaaaaahhh!

TERPURUK LAGI DI LANTAI. LAKI-LAKI ITU PERLAHAN BERDIRI, LALU BERPUTAR MENGITARI KURSI SAMBIL MELANTUNKAN TEMBANG DI BAWAH INI.

Harapan itu ada, duka pun sama
Membayang tidak untuk hari ini saja
Berarak mengiringi ayunan langkah
Gapailah semua yang ada dengan jemari tangan yang lembut
Sebelum bunga rampai menghiasi tanah merah
Sebab sesal tak akan menjadi juru selamat

LAKI-LAKI ITU SEJENAK MENARIK NAFAS.

Selamat malam. Terima kasih kalian telah memberi kesempatan padaku untuk bermimpi lagi. Maaf, aku tadi terlampau emosional. Aku juga merasa aneh, belakangan ini kadar emosiku sulit sekali dikendalikan. Tapi memang begitulah aku. Sekali lagi maafkan aku. Aku lupa, sesungguhnya kalian tidak sama dengan mereka. Kalian sangat baik dan memiliki rasa belas kasih cukup tinggi. Pandangan kalian sebenarnya ingin menghiburku, bukan ? Tapi rupanya ganjalan besar itu telah mengekang kemurnian hati kalian, sehingga membuat keraguan yang sangat akut dan kalian merasa kesulitan untuk berbuat lebih. Ya, aku tahu kalian takut karena orang-orang di luar sana berhasrat memancungku. Tidak apa-apa. Takutlah. Takut adalah bagian dari keselamatan. Berkomplotlah bersama mereka, selamatkan diri dan jagalah keluarga. Lupakan aku. Tengah malam nanti kegagalanku dalam mengukir perjalanan hidup ini akan sampai pada puncaknya. Simpanlah keharuan itu dalam buku sejarah, sebagai bahan kejian anak cucu kalian kelak. Tebarkan harum bunga kas[2]ih pada jiwa-jiwanya. Jika sempat, bisikan pada telinga mereka ; cintailah bangsa dan negeri ini dengan ketulusan.

LAKI-LAKI ITU MELIHAT PADA SATU SUDUT RUANGAN.

Hei, yang di sana ! Kenapa kamu membalikan wajah ? Ini jaman keterbukaan, bung. Tunjukan kesejatian wajahmu. Jika merasa tersinggung atau tidak suka, aku kan sudah mengatakan. Maaf kecurigaanku terlampau berlebihan. Harap maklum, karena selama ini banyak hantu gentayangan mengitariku. Sudah ya, jangan ribut dan jangan ganggu lagi. Aku mau tidur.

LAKI-LAKI ITU MENGAMBIL KAIN BATIK DAN MEMBARINGKAN TUBUHNYA DI LANTAI. SAMBIL DITUTUPI KAIN IA TIDURAN. TAPI TIDAK LAMA KEMUDIAN SAYUP-SAYUP TERDENGAR SEORANG ANAK PEREMPUN MELANTUNKAN LAGU DI BAWAH INI.

Lihatlah mentari setiap pagi
Cahyanya nan gemilang penuh arti
Menuntun bernyanyi, mengajak menari
Ceria, gembira slamanya

LAKI-LAKI ITU BANGKIT, MENCARI SUMBER SUARA SAMBIL TURUT BERNYANYI.

Nur ! Nur ! Kaukah itu ? Nur, di mana kau ? Rani ! Rani kau di mana? Aku kangen. Aku merindukanmu [3]

DIAM SEJENAK

Aku dengar suaranya ada di sekitar ini. Kemana, ya ? Apa sudah pergi lagi. Aku kira… tapi barusan siapa ? Astaga ! Jam barapa dan hari apa sekarang ? Oh Tuhan. Ternyata aku telalu lama tidur di sini. Tidak ! Tidak ! Aku sempat bangun, sempat bersendagurau bersamanya dan mendengarkan dia melantunkan tembang kebebasan.

DIAM SEJENAK DAN MENCARI LAGI

Nur ! Rani ! Nurani ! Tidak ada. Nuraniku betul-betul sudah pergi jauh. Aku tidak punya nurani lagi. Nuraniku hilang.

SEDIH

Pergilah kau, bernyanyi dan menarilah. Benamkan cemas dan dendam bersama kecewamu, biarlah membusuk selamanya di sana. Dengan pasti langit akan tetap menjadi payung dan bumi sebagai penyangga jiwa sejatimu.

LAKI-LAKI ITU MELIHAT PADA KURSI. IA BERPUTAR, MENGITARINYA, LALU BERHENTI DAN DUDUK DI KURSI TERSEBUT. TIBA-TIBA BERSAMA KURSI ITU IA TERJATUH. IA BANGUN, MEMBETULKAN KURSI DAN MENDUDUKINYA, TAPI BERSAMA KURSINYA IA KEMBALI JATUH. KETIGA KALINYA HAL YANG SAMA TERJADI.

Awas ! Sekali lagi menjatuhkanku, kuhajar kau !

LAKI-LAKI ITU DUDUK LAGI DI KURSI. TERNYATA SANG KURSI PATUH PADA PERINTAHNYA DAN LAKI-LAKI ITUPUN BERBANGGA DIRI. BERLAGA SEPERTI BOS, TUMPANG KAKI SAMBIL BERSIUL. TAPI TIDAK LAMA KEMUDIAN BERSAMA KURSI TERSEBUT IA JATUH LAGI.

KINI IA MARAH BENAR. KURSI YANG TERGELETAK IA TENDANG TAPI TIDAK KENA, BAHKAN MEMBUAT DIRINYA HILANG KESEIMBANGAN DAN TERJATUH. IA SEMAKIN BERNAPSU. BAGAI MACAN IA TERKAM KURSI ITU. BAGAI MEMILIKI NYAWA KURSI PUN MENGAUM DAN TANPA DIDUGA-DUGA SANG KURSI BERNASU BERKELAHI DENGAN LAKI-LAKI ITU. TETAPI AKHIRNYA KURSI ITU TERLEMPAR JAUH.

Sebenarnya aku tidak bercita-cita ingin jadi pemimpin ataupun pengusaha. Terus terang saja aku tidak lebih dari seekor keledai dungu. Jelasnya aku tidak sedikit pun memiliki kemampuan di bidang itu. Sejak kecil hingga menjelang dewasa tekad hatiku sudah bulat. Aku ingin mengabdi pada bangsa dan negeri ini lewat propesi guru. Sungguh, aku ingin menjadi guru. Tapi ayahku selalu melarang keras.

LAKI-LAKI ITU MALAKUKAN GERAKAN - GERAKAN BERSAMA KAIN BATIKNYA. LALU MERUBAH DIRI MENJADI BAPAK.

Anakku. Menjadi guru sulit mencari peluang untuk memperkaya diri. Ayah kira bukan sulit, tapi tidak akan pernah kaya. Apa lagi guru sekolah dasar di pedesaan. Gajinya kecil. Bukan kecil, tapi sangat memprihatinkan. Daripada mendapatkan kesenangan, malahan kamu akan bulan-bulanan menjadi boneka kurikulum pendidikan yang sampai detik ini belum jelas arahannya.

LAKI-LAKI ITU MELAKUKAN GERAKAN – GERAKAN BERSAMA KAIN BATIKNYA. LALU KEMBALI MENJADI DIRINYA.

Ayah, tugas seorang guru sangat mulia. Bukan begitu ? Dan bagi anakmu ini harta bukanlah hal yang paling pokok. Yang aku cari dan aku kagumi adalah kemuliaan hidupnya.

LAKI-LAKI ITU MELAKUKAN GERAKAN – GERAKAN BERSAMA KAIN BATIKNYA. LALU MERUBAH DIRI MENJADI BAPAK. KETAWA

Kamu masih bau kencur, nak. Tahu apa tentang kemuliaan hidup ? Belum saatnya kamu bicara soal itu. Tidak ! Apa pun alasannya dan sampai kapanpun ayah tidak akan pernah mengampuni juga menganggapmu anak jika kamu berisi keras ingin menjadi guru. Kamu harus menjadi tentara. Masuklah AKABRI biar jadi perwira tinggi. Minimalnya berpangkat Letjen. Atau kamu masuk ke sekolah pemerintahan dalam negeri, setidaknya kamu bisa menjadi camat sudah lumayan. Atau kamu [4]sekolah bisnis di Amerika agar jadi pengusaha tangguh. Camkan sama kamu ! Di tentara penghargaan atas segala jasa-jasa yang pernah dilakukan sangat nyata. Tidak seperti guru. Tanpa tanda jasa.

LAKI-LAKI ITU KEMBALI MENJADI DIRINYA.

Itulah kemuliaan seorang guru ayah.

LAKI-LAKI ITU KEMBALI MENJADI BAPAK.

Kemuliaan. kemuliaan apa ? Tai kucing. Sampai kapan kemuliaan itu bisa menyambung hidup istri dan anak cucumu ? Anaku, sejak manusia pertama diciptakan, Tuhan telah memberikan kemuluiaan pada kita lebih dari mahluk lainnya. Jadi apa perlunya gelar itu kamu raih kembali. Yang kita perlukan sekarang adalah harta dan kedudukan tinggi setinggi-tingginya. Tidak sekedar hayalan. Jika kita telah menggenggam semuannya dengan sukses, yang kamu cita-citakan dengan sendirinya akan terpenuhi termasuk kemuliaan yang tidak hentinya kamu igaukan itu.

LAKI-LAKI ITU MELAKUKAN GERAKAN – GERAKAN BERSAMA KAIN BATIKNYA. LALU KEMBALI MENJADI DIRINYA. SEJENAK IA TERMENGU.

Ayahku memang suka sekali memaksakan kehendak, istriku, juga kerabat dekatku. Sementara aku sendiri selalu tak berdaya dibuatnya. Sunguh. Seperti halnya menjadi pemimpin negeri ini. Aku sebenarnya…..

KESAL

Ah ! Mereka terus memaksaku hingga aku tidak bisa menolak untuk tidak duduk di kursi yang sudah mereka rancang sedemikian rupa itu.

MENJATUHKAN DIRI

Oh, ternyata empuk. Enak gila. Keempukannya telah menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang sangat menjanjikan akan segala harapan segera tercapai. Demi Tuhan. Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun kersi itu telah mengantarkan pada perubahan kepribadianku yang sangat lain dari kebiasaan sebelumnya. Sifat penakutku yang pada mulanya membayangi ke mana pun melangkah, sangat tak terasa berangsur surut dan berubah menjadi sebuah keberanian bahkan sampai mampu menakut-nakuti siapa pun. Kursi itu membuatku betul-betul betah hidup di dunia. Sampai detik ini aku tidak ingin kehilangan, apa lagi di duduki orang lain. Jiwaku sudah melekat dengannya dan kasihnya selalu mendorong libidoku agar terus bergairah hingga sampai pada puncak orgasme yang nikmatnya tidak dapat dikalahkan oleh goyangan pinggul bidadari- bidadari yang pernah kusetubuhi.

LAKI-LAKI ITU MELAKUKAN GERAKAN – GERAKAN EROTIS, SEPERTI SEDANG MELAKUKAN HUBUNGAN INTIM. TERTAWA 

Ya ! Kini aku tidak lagi keledai dungu, akulah Kaligula, akulah Puntila dan akulah si keji Hitler ; Musnakan mereka dari segala pekerjaannya dan masukan mereka ke penjara bawah tanah. Kurung mereka di tempat itu dan biarkan mereka mati sebagai pembalasan yang setimpal atas kejahatannya. Jika rakyat tidak siap berjuang demi kelangsungan hidupnya terpaksa mereka harus dilenyapkan. Penggalah kepala siapa saja yang berdosa kepada negara sekalipun mereka anak istri kita sendiri. Jadikanlah mereka tontonan bagi orang-orang yang sangat haus akan hiburan segar di televisi. Kita arak mereka seperti halnya mempertontonkan binatang buas yang taring dan kuku-kukunya telah dicopoti. Jika perlu bangkainnya kita jadikan umpan untuk memancing atau kita masukan ke dalam tungku dan abunya kita jadikan kofi. Kofi rasa mayat. Kemudian kita hidangkan tepat pada hari perayaan kemenangan.

LAKI-LAKI ITU MEL[5]AKUKAN GERAKAN–GERAKAN SEPERTI HARIMAU ATAU BINATANG BUAS LAINNYA. IA AMBIL BENTAL YANG SUDAH KUMAL DI SALAH SATU SUDUT RUANGAN DAN DETIK ITU PULA DIHANCURKAN OLEH GIGITAN GIGINYA. KEMUDIAN IA AMBIL KAIN BATIK DAN DIPUKULKANNYA KE LANTAI.

Puah ! Matilah kau ! Matilah sahabatku ! Matilah ayahku ! Matilah istriku ! Matilah anakku ! Matilah anakku !

LAKI-LAKI ITU MENANGIS PILU DAN TERPURUK DI LANTAI.
SAYUP-SAYUP TERDENGAR LANTUNAN LAGU SEPERTI DI BAWAH INI. MEMILUKAN.

Sunyi
Senyap
Tak ada lagi kasih
Tak ada lagi sayang
Semuanya berlalu begitu cepat
Bersemayam dalam mimpi
Dengan hari tanpa siang, tanpa malam
Sendiri

MASIH DALAM KESEDIHAN LAKI-LAKI ITU BERDIRI.

Sekarang tak satupun diantara kursi-kursi itu mau bersahabat denganku. Bahkan kerabat dekat beserta sebagian besar anggota parlemen yang pernah kuberi kelayakan hidup, agar terus mau menjaga kursi kebesaranku juga turut mencibir dan meludahiku dengan dahak paling kental seperti aku lakukan pada penghianat-penghianat yang telah mendahului menemukan kebebasannya di alam baka sana.

MARAH

Dasar tak tahu diri. Jahanam ! Kutu busuk ! Ya. Ayahku jahanam, istriku kutu busuk. Penjahat ! Penghianat ! Aku penjahat, mereka penghianat. Anakku…. Anakku satu-satunya, mutiara bangsa ini telah menjadi korban kejahatan dan kebusukan hati kami. Nur… Nurani, maafkan ayah nak. Kamu benar, kamu juga menang. Betul, ayah tak ubahnya seperti kaus kaki bolong yang tampak indah jika diselimuti sepatu yang mengkilap. Dan kini kutukamu menjadi kenyataan. Ayah telah kehilangan segala-galanya termasuk sepatu yang menyelimuti kaus kaki bolong itu. Ayah betul-betul terasing. Jalan - jalan, gang - gang seketika menjadi buntu. Pintu-pintu, jendela – jendela semua tertutup rapat. Sekarang ayah hanya bisa terpaku di sini, dalam kesunyian yang mencekam.

TERDENGAR BUNYI BEL

Bel terakhir telah tiba. Sebentar lagi mereka datang menjemputku. Selamat tinggal tembok-tembok bisu. Selamat tinggal mentari, selamat tinggal rembulan. Selamat tinggal kenangan. Kini tiba saatnya aku menggayuh sampan, menempuh hidup baru yang pasti. Sendiri. Tak bisa lagi merindu, tak bisa lagi berharap. Nurani pelita hatiku, damailah kau di sana. Bergembiralah walau kau tak sempat menyaksikan kenyataan hidup hari ini. Mimpimu sudah berangsur menjadi kenyataan. Senyumlah, sebentar lagi ayah akan datang menyusulmu. Kita akan dendangkan tembang kebebasan dan menari bersama lagi. Ya, menari. Menarilah anakku, menarilah, menarilah.

LAKI-LAKI ITU MENARI. LALU MEBARINGKAN TUBUHNYA DAN MELANTUNKAN TEMBANG TANPA KATA-KATA.
SESEORANG MENUTUP TUBUH LAKI-LAKI ITU DENGAN KAIN BATIK PERSIS SEPERTI ADEGAN AWAL.

www.teaterpetass.com
 
[2]Monolog Kaus Kaki Bolong karya Hermana HMT
[3]Monolog Kaus Kaki Bolong karya Hermana HMT
[4]Monolog Kaus Kaki Bolong karya Hermana HMT
[5]Monolog Kaus Kaki Bolong karya Hermana HMT

Contoh Surat Pengunduran diri, resign

....................., 9 Februari 2017 Kepada, Yth,............................. Dengan Hormat Melalui surat ini saya selaku ka...